Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Tren Terkini

Kebaya Adhikari Bawa Pesan Pelestarian Budaya dan Alam Lewat Koleksi “Resonara” di IFW 2026

42
×

Kebaya Adhikari Bawa Pesan Pelestarian Budaya dan Alam Lewat Koleksi “Resonara” di IFW 2026

Sebarkan artikel ini
(sumber foto istimewa Kebaya Adhikari) Kebaya Adhikari hadirkan pesan tentang pelestarian budaya dan alam lewat koleksi “Resonara” di IFW 2026

Showbiznesia.com – Kebaya Adhikari kembali membawa kekayaan budaya Indonesia ke panggung mode nasional.

Lewat koleksi terbaru bertajuk ‘Resonara’. Kebaya Adhikari memadukan kebaya, gajah Sumatra, dan Bundengan dalam satu karya yang tidak hanya mengedepankan estetika, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya pelestarian budaya dan alam.

Koleksi tersebut ditampilkan dalam gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Sabtu (1/8).

(sumber foto istimewa Kebaya Adhikari)
Kebaya Adhikari hadirkan pesan tentang pelestarian budaya dan alam lewat koleksi “Resonara” di IFW 2026

Bagi Kukuh Hariyawan selaku desainer Kebaya Adhikari, ‘Resonara’ lahir dari gagasan bahwa Indonesia memiliki begitu banyak warisan yang perlu dijaga dan dihidupkan agar tetap relevan bagi generasi berikutnya.

“Koleksi ini lahir dari gagasan bahwa Indonesia memiliki banyak warisan yang sama-sama perlu dijaga,” ucap Kukuh Hariyawan dalam siaran pers yang diterima Showbiznesia, Sabtu (8/8/2026).

Kami memadukan tiga elemen yang saling melengkapi, yaitu kebaya sebagai identitas budaya bangsa, gajah sebagai simbol kelestarian alam, dan Bundengan sebagai warisan seni khas Wonosobo,” ujar Kukuh.

Ketiganya kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai detail busana, mulai dari bordir, siluet, hingga permainan tekstur.

Kebaya menjadi titik utama sebagai representasi identitas budaya, sementara Bundengan dihadirkan melalui inspirasi unsur anyaman dan pola khas alat musik tradisional Wonosobo tersebut.

Kukuh menilai kebaya, alam, dan kesenian tradisional memiliki satu kesamaan, yakni membutuhkan kepedulian agar tidak hilang ditelan zaman.

Karena itu, fesyen dipilih sebagai medium untuk memperkenalkan kembali berbagai warisan tersebut dengan pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.

“Bagi saya, pelestarian bukan sekadar menjaga agar sesuatu tetap ada, tetapi memastikan warisan itu terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi berikutnya. Prinsip itu berlaku untuk alam maupun budaya,” katanya.

Terinspirasi Bayi Gajah Rawana

Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian dalam koleksi “Resonara” adalah kehadiran gajah. Bukan sekadar ornamen, gajah dipilih karena memiliki makna khusus dalam narasi yang ingin disampaikan Kebaya Adhikari.

Inspirasi tersebut berangkat dari kisah Rawana, bayi gajah yang lahir di Lembah Hijau, Lampung.

(sumber foto istimewa Kebaya Adhikari)
Kebaya Adhikari hadirkan pesan tentang pelestarian budaya dan alam lewat koleksi “Resonara” di IFW 2026

Bagi Kukuh, kelahiran Rawana menjadi simbol harapan di tengah berbagai ancaman terhadap keberlangsungan habitat gajah Sumatra.

“Gajah bukan hanya satwa yang megah, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan,” kata Kukuh.

“Saat mengetahui kisah Rawana, saya merasa ada harapan yang lahir di tengah tantangan besar yang dihadapi habitat gajah saat ini,” ungkapnya.

Kisah Rawana kemudian diterjemahkan ke dalam karya sebagai simbol kelembutan, kekuatan, sekaligus harapan.

(sumber foto istimewa Kebaya Adhikari)
Kebaya Adhikari hadirkan pesan tentang pelestarian budaya dan alam lewat koleksi “Resonara” di IFW 2026

Melalui pendekatan tersebut, Kukuh ingin membawa isu konservasi keluar dari ruang kampanye lingkungan dan memperkenalkannya melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni fesyen.

“Kami ingin menerjemahkan semangat itu ke dalam kebaya sebagai simbol kelembutan, kekuatan, dan harapan agar manusia semakin peduli terhadap alam,” lanjutnya.

Kebaya Makin Fleksibel di Era Modern

Selain membawa pesan pelestarian, Kebaya Adhikari juga melihat perkembangan kebaya yang semakin fleksibel di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.

Kukuh menilai kebaya kini tidak lagi terbatas pada acara adat, seremoni, maupun kesempatan formal.

Perkembangan desain membuat kebaya semakin mudah beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern.

“Menurut saya, kebaya sudah berkembang menjadi bagian dari fashion yang lebih fleksibel,” katanya.

(sumber foto istimewa Kebaya Adhikari)
Kebaya Adhikari hadirkan pesan tentang pelestarian budaya dan alam lewat koleksi “Resonara” di IFW 2026

“Tantangannya adalah bagaimana mendesain kebaya agar tetap menghormati nilai tradisinya, tetapi nyaman dan relevan untuk berbagai kesempatan,” ujar Kukuh.

Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi peluang bagi kebaya untuk terus hidup tanpa kehilangan akar tradisinya. Kebaya dapat hadir dalam berbagai bentuk dan kesempatan selama nilai budaya yang menjadi fondasinya tetap diperhatikan.

Pemikiran itulah yang kemudian menjadi bagian dari semangat Kebaya Adhikari dalam menghadirkan Resonara.

Koleksi tersebut tidak hanya menawarkan tampilan kebaya yang dikemas dengan pendekatan kontemporer, tetapi juga berusaha membawa cerita mengenai warisan Indonesia kepada publik yang lebih luas.

Bawa “Resonara” ke Panggung IFW 2026

Melalui panggung Indonesia Fashion Week 2026, Kebaya Adhikari mempertemukan tiga cerita dalam satu koleksi, kebaya sebagai identitas budaya, Bundengan sebagai kekayaan tradisi Wonosobo, serta gajah sebagai pengingat akan pentingnya menjaga alam.

Kukuh menyebut kesempatan tampil di IFW 2026 menjadi pencapaian tersendiri bagi Kebaya Adhikari.

Apalagi, koleksi Resonara mendapat sambutan hangat dari penonton yang tidak hanya mengapresiasi desain, tetapi juga cerita di balik karya tersebut.

“Bisa tampil di Indonesia Fashion Week 2026 merupakan sebuah kebanggaan sekaligus pencapaian besar bagi Kebaya Adhikari,” ucap Kukuh.

“Kami sangat bersyukur karena koleksi ini mendapat sambutan yang hangat, tidak hanya diapresiasi dari sisi desain, tetapi juga karena cerita yang kami bawa tentang kebaya, Bundengan, dan konservasi gajah,” pungkasnya.

Lewat “Resonara”, Kebaya Adhikari menunjukkan bagaimana kebaya dapat terus berkembang mengikuti zaman sekaligus menjadi medium untuk merawat cerita tentang Indonesia.

Sebuah upaya menjadikan fesyen bukan hanya soal busana yang dikenakan, tetapi juga tentang warisan yang ingin terus dihidupkan.